SEJARAH

Menghargai Diri Sendiri

  • Translate Your Language

    Translate this blog into different languages :
  • Hari Ini

  • Refleksi

    Januari 2012
    S S R K J S M
    « Mei    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Hubungi Aku

  • Pengunjung

    free counters

PINDAH ALAMAT

Posted by Teguh Priyantoro pada 24 Mei 2011

sekarang blog ini telah pindah ke alamat

http://harajes.com/

Akses secepatnya….dengan konten2 yang lebih menarik…

Ditulis dalam Hari Ini | 3 Komentar »

Merajut keharmonisan dengan kehidupan

Posted by Teguh Priyantoro pada 18 Maret 2010

Sambil duduk pagi setelah subuh, dengan memegang sebuah buku, aku tergugah dengan tulisan Herwild Charman. Aku pun berpikir, dan sepakat dengan apa yang telah ia tuliskan mengenai bagaimana merajut keharmonisan dengan kehidupan.

Sedikit kita merenung, Bagaimana kita memandang orang lain, ia akan memandang kita seperti itu. Bagaimana kita menghukumi mereka, mereka akan menghukumi kita juga demikian. Dan bagaimana kita berbicara dengan meraka, begitulah mereka berbicara kepada kita, lembut atau kasar.jadi perilaku dan pikiran kita inilah yang memantik hati orang lain terhadap diri kita sendiri. Bisa jadi mendekatkan atau menjauhkannya dari diri kita.

Bagaimana mungkin seseorang yang berambisi ingin dihormati dan banyak teman kalau mempunyai akhlak yang egois, sombong, dengki, cemburu, dan penyakit-penyakit hati lainnya ? selain itu, juga tidak bisa bersahabat dan saling memahami orang lain. Maksudnya di sini adalah tidak bisa menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang lain yang tentunya perilaku yang baik. Bahkan, ia tidak memiliki kelembutan dan toleransi yang memudahkannya bergabung dengan keluarga, kelompok dan masyarakat. Tidaklah mungkin seseorang mewujudkan kesuksesan spiritual dan material sedangkan ia termarjinalkan dari umat manusia.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang seperti ini. semoga juga setiap perilaku dan apapun yang kita lakukan, adalah merupakan suatu kebaikan. Sehingga harapan kita untuk mendapatkan keharmonisan ditengah-tengah masyarakat dapat terealisasikan. Pastilah dalam perjalanannya, banyak penyakit-penyakit hati ini selalu datang untuk menghalangi kita, tetapi inilah kehidupan yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Yakinlah bahwa kita dapat mencapainya. Kita bisa memulainya dari menghargai diri kita sendiri.

Ditulis dalam Hari Ini | 1 Komentar »

Air Mendidih

Posted by Teguh Priyantoro pada 17 Maret 2010

Air Mendidih

Dalam menghadapi hidup ini, pasti ada berbagai macam tantangan yang akan menghadang yang akan kita dalam menempuh tujuan kita. coba kita renungkan cerita berikut ini :

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan
mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya
setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan
menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh
wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di
panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam
dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah.
Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di
mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi”
jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel
itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu
memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia
mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk
mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa
ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing
menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus,
wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa
cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air,
bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya.
“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu
wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi
dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan
kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang
dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan
menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit
dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang
menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat
Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu
seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi
semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

Itulah sedikit cerita yang aku ambil dari http://www.processtext.com/abclit.html. semoga dapat menjadi bahan renungan bagi kita untuk lebih baik terutama dalam hal perbaikan diri.

Ditulis dalam Hari Ini | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.