Dulu aku manusia bodoh
Tak bisa jawab seribu Tanya
Ketabahanmu tuntun aku
Berikan terang tunjukkan jalan
Dulu aku tuli
Tiada dapat dengar bisikan hati
Teguh hatimu kau bisikanku
Dengan lantunan suara lembutmu
Dulu aku buta
Hidup dalam gulita
Tertatih-tatih cari cahaya
Tangan lembutmu ajak daku
Menyusuri hidup penuh lentera
Diantara ribuan ilmu dunia
Kau guruku, penuntunku
Kau ratuku, kau bundaku
Kau pangeranku, kau ayahku
Engkau setetes embun dalam dahagaku
Secercah cahaya dalam gelapku
Tak mampu kulukis jasamu
Dengan untaian seribu syairku
Jasamu ku kenang selalu
Kubawa hidup sampai matiku
Dengan apa kubalas jasamu
Kini ku tahu
Suksesku adalah dambamu
Itulah obat balas jasaku
Kan kugenggam amanat ini
Kutapaki dengan jalanku
Agar dunia tahu
Dengan tanganmu wahai guruku
Aku bisa melangkah maju
Telah diedit oleh bu Atfi, guru bahasa Indonesiaku pada 8 Agustus 2006
Maaf sebelumnya, karena puisi ini tanpa judul. Sebenarnya puisi ini sudah dibuang, tapi karena ini adalah hasil karya salah satu sahabatku di TRISMA, akhirnya aku mengambil dan menyimpannya sampai sekarang. mohon maaf teman, karyamu aku publikasikan.